Kamis, 15 Maret 2012

Pernalaran Deduktif

Oleh: Ryan Anugrah / 15209775 / 3EA14



1.          Pernalaran Deduktif

                  Pernalaran deduktif merupakan simpulan dari satu atau lebih pernyataan yang bersifat umum. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum dari proposisi tempat menarik simpulan tersebut. Proposisi tempat menarik simpulan itu disebut premis. Premis ada dua macam, yaitu premis mayor untuk pernyataan yang bersifat umum dan premis minor untuk pernyataan yang bersifat khusus. Dengan dasar dua premis itu dihasilkan simpulan yang logis dan sah.

                   Jenis pernalaran deduksi dibagi kedalam beberapa proses silogisme. Untuk memudahkan proses pernalaran deduktif dengan silogismenya ini dipergunakan lingkaran Euler. Di sini akan dijelaskan mengenai posisi subjek dan predikat pada sebuah pernyataan, di mana subjek diwakilkan dengan warga Indonesia (W) dan predikat diwakilkan dengan ramah (R).

       (1) Subjek sama dengan predikat.
             - Semua warga Indonesia ramah.

                        
       (2) Sebagian subjek adalah sebagian predikat.
             - Beberapa warga Indonesia ramah dan beberapa warga Indonesia tidak ramah.
             - Beberapa warga ramah adalah warga Indonesia dan beberapa tidak.

                      
       (3) Semua subjek adalah predikat.
             - Semua warga Indonesia ramah tetapi tidak semua warga adalah warga Indonesia.

                           
       (4) Semua predikat adalah subjek.
             - Semua warga ramah adalah warga Indonesia tetapi tidak semua warga Indonesia 
               ramah.

                  
       (5) Subjek tidak sama dengan predikat.
             - Warga Indonesia tidaklah ramah.
  

                  Dengan lingkaran Euler kita dapat menguji simpulan yang dibuat logis atau tidak.

1.1    Silogisme Kategorial
        
                  Merupakan silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi adalah premis dan satu proposisi adalah simpulan. Premis umum adalah premis mayor dan premis khusus adalah premis minor. Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpukan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.

Contoh :
            Semua manusia adil.
            Semua hakim adalah manusia.
            Jadi, semua hakim adil.

                  Untuk membuat simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dengan premis minor. Term penengah pada silogisme di atas adalah manusia, dan term penengah hanya ada pada premis bukan pada simpulan. Jika term penengah tidak ada, maka simpulan tidak bisa diambil.

Contoh :
            Semua manusia tidak adil.
            Semua binatang bukan manusia.
            Jadi, (tidak ada simpulan)


Syarat umum silogisme kategorial sebagai berikut.
       a.  Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term mayor, term minor, dan term penengah.
            Contoh :
            Semua hama harus dibasmi.
            Tikus adalah hama.
            Tikus harus dibasmi.
            
            Term minor        = tikus.
            Term mayor       = harus dibasmi.
            Term penengah  = hama.
            
            Jika lebih dari tiga term, simpulan akan menjadi salah.
            Contoh :
            Baju itu tergantung di lemari
            Lemari itu tergantung di dinding
      
             Dalam premis ini terdapat empat term, yaitu baju, tergantung di lemari, lemari, dan   
             tergantung di dinding.
            Maka dapat ditarik simpulan.

        b. Silogisme terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor dan simpulan.

        c. Dua premis negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
            Contoh :
            Semua belalang bukan kupu-kupu.
            Tidak seekor kupu-kupu pun adalah kepik.

        d. Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
            Contoh :
            Semua buaya bukanlah kura-kura.
            Semua kura-kura bertempurung.
            Jadi, semua buaya tidak bertempurung.

        e. Dari premis yang positif, akan menghasilkan simpulan yang positif.
            Contoh :
            Semua hewan buas adalah karnivora.
            Semua buaya adalah hewan buas.
            Jadi, Semua buaya adalah karnivora.

         f. Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
            Contoh :
            Sebagian hewan berekor adalah kera.
            Sebagian katak berekor.
            Jadi, (tidak ada simpulan)

        g. Jika salah satu premisnya khusus, maka simpulan akan bersifat khusus.
            Contoh :
            Semua mahasiswa adalah lulusan SMA.
            Josef adalah mahasiswan.
            Josef adalah lulusan SMA.

        h. Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif, simpulan tidak dapat dibuat.
            Contoh :
            Beberapa manusia bersikap sopan.
            Tidak seekor binatang pun adalah manusia.
            Jadi, (tidak ada simpulan)

1.2    Silogisme Hipotesis

                  Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis atau pengandaian jika suatu kondisi tertentu terjadi. Sedangkan  premis minornya memenyatakan kondisi pertama terjadi atau tidak terjadi. Simpulan pun akan menyatakan apakah kondisi kedua terjadi atau tidak. Kondisi pertama disebut anteseden dan kondisi kedua disebut konsekuensi. 

Contoh : 
            Jika Reno lulus, Reno akan menjadi sarjana.
            Reno menjadi sarjana.
            Jadi Reno lulus.

            Jika Reno tidak lulus, Reno tidak akan menjadi sarjana.
            Reno tidak menjadi sarjana.
            Jadi Reno tidak lulus.

1.3    Silogisme Alternatif

                  Silogisme ini memasangkan dua pernyataan dan mengatakan jika salah satu pernyataan tidak benar, maka pernyataan yang lain terjadi atau benar. Di sini premis mayor berupa proposisi alternatif. Apabila premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif lain. 

Contoh :
            Kompor itu menggunakan minyak atau gas.
            Kompor itu menggunakan minyak.
            Jadi, kompor itu tidak menggunakan gas.

            Kompor itu menggunakan minyak atau gas.
            Kompor itu tidak menggunakan minyak.
            Jadi, kompor itu menggunakan gas.

1.4    Entimen

                  Silogisme ini jarang sekali ditemukan dalam keseharian, baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. Namun, ada bentuk silogisme yang tidak memiliki premis mayor karena yang sifatnya umum. Yang tunjukan hanya premis minor dan simpulan.

Contoh :
            Semua umat islam adalah haji.
            Susan seorang muslim. 
            Jadi, Susan seorang haji.

Dari silogisme ini dapat ditarik entimen, yaitu "Susan seorang haji karena dia seorang muslim".
Dengan demikian, silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya, sebuah entimen juga dapat dijadikan silogisme.




sumber :

Prof. Dr. E. Zaenal Arifin, M. Hum. dan Drs. S. Amran. Tasai, M. Hum. 2009.Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.Jakarta: Akademika Pressindo.

Jos Daniel Parera.1991.Belajar Mengemukakan Pendapat.Jakarta: Erlangga.





1 komentar: